Sebelum aku pergi ke luar negeri di Korea Selatan, bangsa gingseng ini dalam benakku orang-orangnya kasar, suka menginjak-injak harga diri orang Indonesia sebagaimana kebanyakan orang korea yang ada di Indonesia, bahkan semua orang yang aku temui di Jakarta, menganggap minor tingkah-laku orang orang gingseng di Indonesia. Tentunya aku sendiri sudah mengalami ikut bekerja dengan orang korea, dan apa yang kurasakan sama dengan orang orang lain, yakni: kasar, bicaranya suka berteriak, kalau memerintah suka dengan kaki, tak bisa menghargai karyawan dll…
Pada waktu aku keterima di saat setelah wawancara dengan perusahaan GS Eng. & Const., ada kebimbangan besar, apakah akan aku terima dan pergi ke Korea Selatan serta meninggalkan perusahaan Australia yang ada di kalimantan ini dan tentu saja meninggalkan teman teman baikku dan akan kembali merasakan kekejaman mereka atau aku tetap di Indonesia dengan keadaan yang nyaman dan enak. Hampir dua hari aku gundah gulana dengan banyak pikiran dan pertimbangan: Ya atau Tidak, Pergi atau Indonesia dll…. Aku bertanya pada teman teman dekatku, saudara dan tentu saja istri tercintaku, ada yang mendukung, menolak dan tentu saja itu akan kembali ke diriku untuk memutuskan. Tidak tahu mengapa hati kecil saya mengatakan pergi aja Dicky mumpung ada perusahaan engineering besar di Korea, kesempatan tidak akan terulang, dan tentu akan meningkatkan experienmu di luar negeri.
Dengan beberapa minggu proses paspor, visa dan tetek bengeknya, aku sampai di bandara internasional Incheon bersama-sama para TKI lainnya dan ada 2 orang perwakilan dari perusahaan perantaraku yang begitu ramah serta seorang supir berdasi yang tidak kalah sopannya. Aku merasakan semua serba asing dan modern selama beberapa hari, semua sistem transportasi darat baik bis dan kereta api bawah tanah (subway) tertata rapi dan serba automatic, mulai dari pembayaran tiket yang dapat menggunakan kartu serta sistem sistem pelayanannya, bahkan di tempat kantor baruku untuk toilet menggunakan digital (closet) yang pasti membuat aku bingung dll….
Sebenarnya bukan itu yang menjadi perhatiankuku, tapi perilaku orang Korea ternyata berbeda 180 derajat dengan yang ada di Indonesia, mungkin karena perantau yang harus mempertahankan kehidupan barunya. baiklah akan aku listingkan:
- Aku dibantu seorang mentor sebagai pembimbingku selama aku berada di Korea dan sanggup 24 jam menerima keluan-keluanku bila memang pantas diungkapkan dan yang pasti orangnya baik dan ramah, bahkan menghargai saya sebagai orang muslim, mulai dari makanan serta beribadah.
- Bila aku di jalan, banyak orang yang dengan baik hati mau membantuku dengan semampunya, tanpa dengan penuh curiga.
- Teman-teman baruku di kantor GS, menyambutku dengan baikdan tanpa sungkan sungkan memberikan tangan emasnya demi kelancaranku
- Kehidupan di malam hari begitu amannya dari pecopet, maling atau jambret yang sering aku dengar di Indonesia, bahkan banyak perempuan yang kutemui di malam hari tanpa takut pergi sendirian.
- Setiap barang milik pribadi, jarang hilang walaupun orang tersebut tidur dengan pulas di tempat umum.
- Walaupun aku tidak tahu jalan, waktu mau pulang ke apartemenku dengan bis, orang orang Korea tanpa sungkan atau sombong akan menolongku
- ……….pokoknya mak nyos
Memang ada bagian kecil yang mungkin tak berkenan di hati, tetapi tertutupi oleh banyak hal yang menyenangkan dan melegakan (ini bukan promosi priwisata lho).
Waktu aku pergi ke Kedutaan Indonesia di Korea, banyak pelajar Indonesia yang sedang latihan menari untuk mengenalkan Indonesia bila ada acara resmi dari kedutaan. Tetapi ada beberapa hal lucu dan menggelikan, ketika ada perlombaan pidato berbahasa Indonesia yang diikuti orang orang korea banyak peserta mengangkat isu isu yang ada di Indonesia, yakni: tentang jam karet, masalah suap dan hal-hal yang minor tentang Indonesia. Apakah negeri tercintaku sedemikian bobroknya?
Aku menyintai Indonesia sebagai tanah airk dan tumpah darahku, tetapi bila melihat fenomena fenomena ini aku menjadi miris terhadap Indonesia, kok jauh berbeda dengan negeri ini yang cenderung lebih aman, tidak brutal, bila melakukan demo jarang terjadi kekerasan, dan tanggapan orang Korea yang tahu Indonesia banyak yang mengatakan:
- Semua bisa di atur dengan uang
- Sangat mengerikan bila bepergian di malam hari, baik terhadap orangnya atau transportasinya
- Banyak jam karet bila terhadap kesepakatan atau kedisiplinan.
- Bila kita bertanya sesuatu, sulit membedakan antara yang mau peduli, acuh, melengos atau yang baik hati untuk memberikan tangan emasnya, jadi membuat orang mengambil sikap diam.
- dan lain lain…..
Aku harap semua informasi ini dan yang aku rasakan tentang Indonesia tidak benar, dan aku berharap sekali dan pasti, Indonesia adalah negeri yang aman, ramah, baik, peduli pada orang lain, tak ada korupsi, berdisiplin tinggi seperti amanat para pendahulunya yang ada di dalam Pancasila, Undang Undang dan peraturan peraturan adat yang tak tertulis tetapi menjunjung tinggi kemulian yang sesuai dengan agama yang di anut orang Indonesia. AMIN


Bangsa kita terlalu bangga dengan budaya kita sendiri tanpa bisa mengimplementasikannya, sebenarnya budaya negara lain juga sekiranya dpat membawa kearah kemajuan patut dicontoh. Salam kenal.
Salam kenal juga saudara Ubadbmarko.
Memang banyak hal di korea yang perlu di contoh khususnya untuk kehidupan perkotaan di Indonesia, tetapi untuk kehidupan di perdesaan Indonesia tidak kalah dengan korea, namun ada budaya yang tidak luntur di korea, yakni menghormati senior atau pendahulu atau orangtua yang masih melekat dengan tingginya dengan cara membungkukkan badannya (mungkin kayak Jepang) dan mendahulukannya untuk urusan apapun.
Tradisi ini mungkin bagus kita contoh dan diterapkan di Indonesia, apa mungkin ya?